Selamat Datang
Register | 
  • Sukses Sitepu  mengirimkan tautan artikel  Di Bawah 1 Gram, Bawa Sabu Tak Dihukum ke facebook
  • Sugiarto   mengirimkan tautan artikel  KOMPAS bola - FIFA Digugat ke Badan Arbitrase ke facebook
  • rudyanto wang  mengirimkan tautan artikel  Duh! Kelas Ambruk Sebelum UN Berlangsung ke facebook
  • rudyanto wang  mengirimkan tautan artikel  Angka Pengangguran di Australia Naik ke facebook
  • Sukses Sitepu  mengirimkan tautan artikel  KOMPAS bola - Komding PSSI Loloskan Toisutta-Arifin ke facebook
  • rudyanto wang  mengirimkan tautan artikel  Jadilah Wirausaha Berbasis Lingkungan ke facebook
  • rudyanto wang  mengirimkan tautan artikel  Disdik dan Guru Studi Banding ke AS... ke facebook
  • Sukses Sitepu  mengirimkan tautan artikel  Menhub: Sertifikasi FAA Tidak Perlu ke facebook
KOMPAS.com
Kamis, 12 Mei 2011 | 20:30 WIB
Puncak Jaya
Indonesia-Amerika Kaji Lapisan Es Abadi
Icha | wah | Selasa, 18 Mei 2010 | 18:41 WIB
Dibaca: 88
|
Share:
KOMPAS/HARRY SUSILO Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari Wanadri berdoa di batas es Puncak Nggapulu, Pegunungan Jayawijaya, Papua, Kamis (22/4/2010), sebelum merayakan Hari Bumi di ketinggian sekitar 4.700 meter di atas permukaan laut. Mereka juga mengumpulkan sampah yang terdapat di sekitar batas es di kawasan Puncak Nggapulu.

JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan peneliti Universitas Ohio dan Universitas Colombia Amerika mengkaji lapisan es abadi di Puncak Jaya, Papua, Indonesia. Kajian terhadap inti es yang diambil dari Puncak Jaya tersebut bertujuan untuk mengetahui sejarah perubahan iklim di Indonesia dan sekitarnya.

"Ekspedisi Puncak Jaya untuk mengambil sampel, untuk melihat perubahan cuaca yang terjadi dan bagaimana perubahan iklim ke depannya," ujar Kepala BMKG Sri Woro Harijono dalam acara peresmian kerja sama di BMKG, Jakarta, Selasa (18/5/2010).

Selain itu, kajian es abadi Puncak Jaya juga diharapkan mampu menunjukkan keadaan flora dan fauna di masa lalu. "Juga kejadian alam seperti letusan gunung, kebakaran hutan, yang diungkap dari debu yang terperangkap di es," lanjut Sri.

Penelitian terhadap es abadi ini, menurut Sri, dapat berjalan selama dua tahun yang dimulai dengan ekspedisi ke Puncak Jaya selama sekitar empat hari. "Hasilnya akan diperbandingkan dengan hasil penelitian lain, seperti di Kilimanjaro," ujar Sri.

Sejumlah informasi terkait variabilitas dan perubahan iklim di Indonesia dapat terungkap dari data es abadi. Informasi tersebut diperoleh melalui analisis isotop unsur-unsur yang terkandung dalam es seperti hidrogen dan oksigen.

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.

  • syuk lim
    Sabtu, 22 Mei 2010 | 06:52 WIB
    wah keren indpnesia.., mengadakan penelitian
 
Kirim Komentar Anda
Silakan untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.